Langsung ke konten utama

Bunda, Malaikat Pelindungku



“Apa yang kuberikan untuk Bunda tersayang. Tak kumiliki sesuatu berharga untuk Bunda tercinta. Hanya ini kunyanyikan senandung dari hatiku untuk Bunda, hanya sebuah lagu sederhana lagu cintaku untuk Bunda “ Sepenggal bait lagu ini menggambarkan, betapa berharganya seorang Bunda untukku. Saat aku menangis, Bunda memelukku. Saat aku terjatuh, Bunda membantuku untuk bangkit. Saat aku lelah, Bunda memberikanku semangat dan saat aku sakit, Bunda menjagaku. Dia lah malaikat tanpa sayap yang Tuhan berikan di dalam hidupku.

Dahulu saat aku baru menginjak bumi  dan membuka mata, aku yakin dia adalah sosok yang  pertama kali tersenyum dan tertawa bahagia. Sosok cantik yang aku lihat seperti  bidadari yang berada di bumi. Sosok tangguh yang aku lihat hampir tidak pernah meneteskan air mata di pipi. Sosok yang selalu menjadi inspirasi hidup ketika aku mencari arti cinta dan kasih sayang. Dia adalah Bundaku tersayang. Kata orang tidak ada manusia sempurna di dunia ini tetapi bagiku manusia sempurna itu adalah Bundaku. Kata orang bintang itu bersinar kala malam datang tetapi aku memiliki bintang yang bersinar terang sepanjang hari.

Dimataku, Bunda adalah segalanya. Bunda adalah hidup dan nafasku. Bunda adalah sumber kekuatanku hingga hari ini. Cinta dan kasih sayangnya selalu menjadi semangat terindah bagiku. Dia memberikan apapun yang dibutuhkan anaknya tanpa mengeluh. Selama 9 bulan, Bunda mengandungku dengan penuh cinta dan bertaruh nyawa saat melahirkanku agar aku bisa melihat dunia ini. Semua itu dilakukan demi aku,  buah hatinya.  Pengorbanan yang dia lakukan tidak akan mampu terbayarkan oleh apapun.
*****
Ku buka kembali album biru yang telah usang, kulihat senyuman tulus penuh kasih sayang ke arah sosok kecil dengan senyuman manis polos khas balita yang ada dipangkuannya. Seketika tanpa ku sadari titik air mata jatuh disudut gelap mataku. Aku bersyukur kepada Allah SWT karena telah memberikan sosok malaikat pelindung seperti Bunda. Bunda selalu ada di belakangku dengan sabar dan kuat untuk mendukungku apapun yang terjadi, bahkan Bunda selalu siap menangkapku ketika aku jatuh. Walau ku tahu dari lubuk hatinya paling dalam dialah yang paling terluka ketika melihat aku, putri sulungnya jatuh dan terpuruk. Itu semua ia lakukan agar aku tetap bisa bangkit dan maju dalam menghadapi cobaan yang datang.

Terkadang aku bertanya dalam hati, terbuat dari apakah hati bunda ini. Logamkah, emaskah, atau bahkan intan? Yang mana akan semakin kuat dan bersinar setelah ia bisa melewati berbagai proses pemanasan dengan suhu yang begitu tinggi. Tidak mudah bagi Bunda untuk membesarkanku, karena sejak kecil aku diputuskan oleh dokter mengalami kelainan karena kecelakaan yang terjadi saat itu. Tidak pernah putus asa kasih sayangnya, tidak pernah ada kata menyerah dalam perjuangannya membuatku sembuh. Aku tahu, kesedihan kembali menyelimuti dirinya ketika melihatku terbaring lemah memasuki ruang UGD. Namun, dia berusaha untuk tidak terlihat lemah di depanku meski hatinya menangis. Hingga akhirnya air mata itu menetes saat selang oksigen terpasang di dalam hidungku. Andai saja aku bisa menghapus kesedihanmu, Bunda. Andai saja aku bisa menukarnya dengan kebahagiaan. Aku ingat Bunda berbisik di telingaku “Kuat ya sayang, berjuang buat sembuh ya Kak. Kita berjuang sama-sama ya”. Mulai saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk berjuang melawan semuanya untuk Bunda.
*****
Ketika aku beranjak dewasa, Bunda pernah bertanya bagaimana rasanya naik commuter line atau kereta api dan meminta aku mendampinginya. Aku ingin sekali menuruti kemauannya, tetapi maaf Bunda hingga hari ini aku belum bisa mendampingimu naik kereta api. Ah, aku seperti anak yang tidak tahu terima kasih dan sangat tidak sepadan dengan dirinya yang selalu bersedia menemaniku kemanapun aku pergi. Seringkali aku melawan Bunda, membuatnya sedih serta kecewa. Pernah aku bertengkar hebat dengannya dan membuat Bunda menangis. Aku membuat dirinya bertanya “ Kakak sayang gak sama Bunda?”. Aku hanya bisa terdiam dan tanpa sadar air mata menetes dari mataku serta matanya. Bunda, tanpa harus aku jelaskan kepadamu tentu aku sangat menyayangimu melebihi apapun. Pernah aku melihatnya merintih menahan rasa sakit namun ia tidak  mengatakan kepada siapapun. Baginya, melihat anak-anaknya tersenyum dan bahagia adalah obat  yang paling berharga. 

Dalam setiap nafasku selalu ada nama yang berhembus tanpa henti. Nama yang selalu mengalir di dalam tubuhku, nama yang selalu ada di dalam hatiku dan nama yang tidak pernah lelah aku sebut dalam setiap sujudku. Itulah namamu, Bunda. Tahukah Bunda, saat ini aku sedang berjuang untuk selalu membahagiakanmu. Kasih sayang yang Bunda berikan tidak akan habis termakan oleh waktu. Hanya dengan doa aku bisa membalas semua yang telah engkau berikan kepadaku. Terima kasih Bunda untuk selalu merawat, menjaga, dan menyayangiku setulus hatimu. Terima kasih untuk kasih sayang yang tidak pernah usai. Maafkan aku yang belum bisa membahagiakan dirimu. Aku bangga menjadi anakmu. Aku bangga lahir dari rahim seorang Bunda yang sangat menyayangiku. 

Para wanita hebat akan terus hidup, hingga detak tidak lagi menyatu dalam tubuh, mereka akan terus melekat tak lekang oleh waktu. Engkaulah wanita hebat itu. Engkaulah malaikat pelindungku. Engkaulah kekuatan yang membuat aku bertahan hingga saat ini, Engkaulah penerang dalam kegelapan malam. Aku mencintaimu seperti jantung yang berdetak di dalam tubuhmu, meski nantinya aku tidak lagi di sisimu, aku selalu ada di dalam hatimu dan berdetak untukmu hingga akhir waktu. Bunda, semoga Tuhan selalu memberikan kedamaian di dalam hidupmu. Aku sangat mencintaimu, malaikat pelindungku. Aku menyayangimu, surgaku. 

Tulisan ini telah dimuat di rrinews.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

F.

Untuk kalian, F. "Baru saja berakhir, hujan di sore ini". Apa kabar? Sudah lama kita tidak berjumpa sejak perpisahan di bulan Januari. Aku maklumi itu semua. Aku mengerti keadaan kalian. Percayalah, aku menulis ini semua bukan karena ingin mencuri perhatian kalian atau mungkin mendramatisir keadaan yang terjadi. Sama sekali tidak. Aku menulis ini semua hanya karena rindu. Apakah kalian juga merasakannya? Setidaknya, mengingat bagaimana dulu kita bersama, mengingat bagaimana kita menangis lalu tertawa atau mengingat bagaimana kerasnya berjuang dan mudahnya menyerah. Lucu rasanya ketika mendengar nama kalian aku masih bisa merasakannya walaupun hanya sedikit untuk mengingatnya. Aku masih ingat betapa lucunya saat nama F terbentuk dan kita menjadi sekumpulan manusia-manusia yang sempat terbelenggu dengan cinta. Aku tidak peduli, apakah aku menyimpan memori untuk kalian atau tidak. Yang aku tahu, aku merasakannya. Cukup aku. Maaf aku sempat membuat kalian kecewa atas segala sikap...

April

Aku hanya rindu perihal kamu Katanya rindu itu sunyi Tapi mengapa hati ini terus berteriak memanggil namamu Katanya rindu itu berat Tapi mengapa bibir ini tersenyum saat mengingat tentang kamu Akuu..... Seorang kekasih hati Pemilik cinta sejati untuk hal yang bernama janji Pengagum perasaan sebaris puisi Untuk kamu yang aku cintai Hai kamu, Yang sedang berada dialam mimpi Apakah kamu merasakan cinta ini? Ternyata, ada hal yang lebih indah dari mentari pagi Kamu hadir di April pagi ini Aku ingin berkata, tersenyum, bahkan menangis Kamu tidak perlu khawatir Aku menangis bukan karena sedih, melainkan bahagia Yaa.....aku bahagia takdir membawa kita menjadi sedekat ini Jika ribuan orang bertanya apa yang membuat ku bahagia Maka jawabannya adalah kamu Kamu tahu? Aku senang ketika kau menentang ku, berkata bahwa hal ini tidak baik dan hanya bersama mu lah aku bisa beragumen dengan logika Kemudian, dengan sebuah pelukan mampu meluluhlantakan semua itu Aku senang meliha...